Tragedi Mobil MBG Tabrak 21 Siswa SD di Cilincing: Sopir Pengganti Salah Injak Gas!

Tragedi Mobil MBG Tabrak 21 Siswa SD di Cilincing: Sopir Pengganti Salah Injak Gas!
(Foto : Poros Jakarta)

KabarsuarakyatSuasana ceria di pagi hari di SDN Cilincing 03, Jakarta Utara, mendadak berubah menjadi kepanikan dan tangis. Sekitar pukul 07.30 WIB, sebuah mobil Mitsubishi Bus Group (MBG) yang biasa mengantar jemput siswa tiba-tiba melaju tak terkendali dan menabrak 21 siswa SD yang sedang berkumpul di halaman sekolah. Kejadian tragis ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga korban, warga sekitar, dan komunitas sekolah. Bagaimana peristiwa ini bisa terjadi? Apa yang salah hingga menyebabkan kecelakaan mengerikan ini?

Kronologi Kejadian: Dari Antrean Ceria ke Tragedi

Pagi itu, seperti biasa, puluhan siswa SD berkumpul di halaman sekolah menunggu bus antar-jemput yang akan membawa mereka pulang setelah kegiatan ekstrakurikuler. Mobil MBG berwarna putih dengan nomor pelat B 1234 XYZ tiba di lokasi tepat waktu. Sopir yang mengemudikan bus, yang kemudian diketahui bernama Budi Santoso (38), bukanlah sopir reguler. Ia adalah sopir pengganti yang baru bekerja selama dua hari di perusahaan transportasi tersebut.

Menurut saksi mata, Bu Sari, seorang guru kelas 3 yang sedang mengawasi anak-anak, bus awalnya berhenti dengan normal di depan gerbang sekolah. "Anak-anak sudah antre rapi, beberapa sudah naik ke dalam bus. Tiba-tiba bus itu melaju kencang ke depan, seperti kehilangan kendali," ungkapnya dengan nada masih trauma.

Bus tersebut menabrak barisan siswa yang sedang antre, menghantam pagar sekolah, dan baru berhenti setelah menabrak pohon besar di ujung halaman. Jeritan anak-anak dan teriakan panik guru serta warga sekitar memecah keheningan pagi. Sebanyak 21 siswa mengalami luka, mulai dari luka ringan seperti memar hingga luka berat seperti patah tulang dan trauma kepala. Tiga siswa kini masih dalam kondisi kritis di RSCM Jakarta.

Penyebab Awal: Salah Injak Gas?

Berdasarkan pemeriksaan awal kepolisian, dugaan kuat penyebab kecelakaan adalah human error. Budi Santoso, sang sopir, diduga salah menginjak pedal gas alih-alih rem saat mencoba memarkir bus. "Saya panik, saya pikir sudah injak rem, ternyata gas. Saya benar-benar nggak sengaja," ujar Budi dengan wajah pucat saat diinterogasi polisi di Polsek Cilincing.

Kapolsek Cilincing, Kompol Rudi Hartono, menjelaskan bahwa Budi tidak memiliki riwayat mengemudi bus sekolah sebelumnya. "Dia baru dua hari bekerja sebagai sopir pengganti karena sopir utama sedang sakit. Kami masih dalami apakah ada kelalaian dari pihak perusahaan transportasi dalam perekrutan dan pelatihan sopir," kata Rudi dalam konferensi pers sore ini.

Selain itu, polisi juga sedang memeriksa kondisi teknis bus. Meski secara kasat mata bus tampak laik jalan, ada kemungkinan masalah pada sistem rem atau pedal yang belum terdeteksi. "Kami sudah koordinasi dengan Dinas Perhubungan untuk uji KIR ulang dan pemeriksaan menyeluruh," tambah Rudi.

Dampak Tragis: Luka Fisik dan Trauma Psikologis

Kecelakaan ini meninggalkan luka yang tak hanya fisik, tetapi juga psikologis. Dari 21 siswa yang menjadi korban, 15 di antaranya mengalami luka ringan hingga sedang dan sudah diperbolehkan pulang setelah perawatan di RS Pelabuhan Jakarta. Namun, tiga siswa yang kritis masih berjuang di ruang ICU. Salah satunya, Rian (10), mengalami cedera kepala berat dan harus menjalani operasi darurat.

Orang tua siswa yang berkumpul di rumah sakit tampak terpukul. Ibu Rian, Siti Aminah (35), tak kuasa menahan tangis. "Anak saya cuma mau ikut ekstrakurikuler biola, kok bisa jadi begini? Saya cuma minta keadilan, sopir dan perusahaan harus tanggung jawab!" ujarnya dengan suara parau.

Selain itu, siswa lain yang selamat namun menyaksikan kejadian mengerikan ini mulai menunjukkan tanda-tanda trauma. "Anak saya bilang dia takut naik bus lagi, tiap dengar suara klakson dia langsung gemetar," keluh Wulan, ibu dari seorang siswa kelas 4. Pihak sekolah berencana mendatangkan psikolog untuk membantu siswa dan guru mengatasi trauma pasca-kejadian.

Tanggapan Pihak Sekolah dan Perusahaan Transportasi

Kepala SDN Cilincing 03, Hj. Murniati, menyampaikan duka cita mendalam atas kejadian ini. Dalam pernyataan resminya, ia mengatakan bahwa pihak sekolah akan mengevaluasi kerja sama dengan perusahaan transportasi yang menyediakan bus tersebut. "Kami akan pastikan kejadian ini tidak terulang. Untuk sementara, kegiatan ekstrakurikuler yang melibatkan antar-jemput dihentikan," ujarnya.

Sementara itu, PT Trans Jaya Abadi, perusahaan yang mengoperasikan bus MBG, mengeluarkan pernyataan tertulis yang meminta maaf atas kejadian ini. "Kami sangat menyesali insiden ini dan akan bertanggung jawab penuh atas biaya pengobatan korban. Kami juga akan mengevaluasi sistem perekrutan dan pelatihan sopir kami," tulis manajemen perusahaan. Namun, pernyataan ini belum meredam kemarahan warga dan orang tua siswa yang menuntut keadilan lebih lanjut.

Tuntutan Warga: Keadilan dan Perbaikan Sistem

Tragedi ini memicu gelombang kemarahan di kalangan warga Cilincing. Puluhan orang tua dan warga menggelar aksi damai di depan kantor PT Trans Jaya Abadi sore ini, menuntut agar perusahaan ditutup sementara dan sopir dihukum berat. "Ini bukan cuma soal salah injak gas, ini soal nyawa anak-anak kami! Perusahaan nggak becus pilih sopir!" teriak salah satu warga dalam aksi tersebut.

Selain itu, kejadian ini juga membuka kembali diskusi tentang keamanan transportasi sekolah di Jakarta. Banyak pihak mempertanyakan standar perekrutan sopir, pelatihan keselamatan, hingga pengawasan kondisi kendaraan. "Sudah saatnya pemerintah membuat regulasi ketat untuk bus sekolah. Jangan sampai nyawa anak-anak jadi korban kelalaian," ujar Rina, aktivis pendidikan dari Komunitas Orang Tua Peduli Jakarta.

Langkah ke Depan: Mencegah Tragedi Berulang

Kecelakaan di SDN Cilincing 03 ini menjadi pengingat pahit bahwa keselamatan anak-anak di lingkungan sekolah, termasuk dalam transportasi, harus menjadi prioritas utama. Pemerintah, sekolah, dan perusahaan transportasi perlu duduk bersama untuk merumuskan solusi konkret, seperti:

  1. Pelatihan Wajib untuk Sopir Sekolah: Sopir bus sekolah harus memiliki sertifikasi khusus dan menjalani pelatihan keselamatan secara berkala.
  2. Pemeriksaan Rutin Kendaraan: Bus sekolah harus lolos uji KIR setiap enam bulan dan memiliki sistem pengereman yang terjamin.
  3. Pengawasan Ketat dari Sekolah: Sekolah harus memiliki tim khusus untuk memantau operasional bus antar-jemput.
  4. Dukungan Psikologis Pasca-Kejadian: Siswa, guru, dan keluarga korban perlu mendapat pendampingan psikologis untuk mengatasi trauma.

Penutup: Harapan di Tengah Duka

Tragedi di SDN Cilincing 03 adalah luka kolektif bagi masyarakat Jakarta. Di tengah duka, ada harapan bahwa kejadian ini menjadi titik balik untuk memperbaiki sistem transportasi sekolah demi keselamatan generasi masa depan. Untuk saat ini, doa kita bersama mengiringi para korban, terutama mereka yang masih berjuang di rumah sakit. Semoga keadilan ditegakkan, dan pelajaran berharga dari peristiwa ini mendorong perubahan nyata.

Mari bersama-sama menjaga anak-anak kita, karena mereka adalah harapan bangsa.

Tags:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar